Wednesday, July 10, 2013

Sejarah Berdirinya Masyumi



Sejarah Berdirinya Masyumi
Latar Belakang Berdirinya Partai Masyumi
            Tanggal 21 september 1937 atas kesadaran pemimpin-pemimpin  Organisasi Islam, mereka menyatukan diri dalam suatu federasi yang disebut Majelis Islam A’la Indonesia yang disingkat dengan MIAI, sebagaimana dikatakan Ahmad Syafii Maarif (1995:17) dalam bukunya Islam dan Kenegaraan sebagai berikut “Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) lahir atas inisiatif K.H. Mas Mansur dari Muhamadiyah, K.H.M. Dahlan dan K.H. Wahab Hasbullah dari, Nahdatul Ulama, Wondoamisseno dari Serikat Islam dan tokoh organisasi Islam lainnya separti Persatuan Ulama dan Al-irsyad”, berdasarkan kutipan tersebut dapat dipahami bahwa pendirian MIAI adalah inisiatif dari para pemimpin organisasi-organisasi Islam untuk menyatukan diri dalam satu organisasi Islam. Tanpa ada campur tangan dari pihak penjajah.http://catansolihin.blogspot.com/

Tuesday, July 2, 2013

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK TERHADAP HASIL BELAJAR MATERI TAKTIK JEPANG MEMBENTUK BPUPKI TAHUN 1945 PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 B. SRIKATON TAHUN AJARAN 2011/2012


BAB 1
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Diera globalisasi, telah terjadi perkembangan ilmu pengetahuan dan Tehonologi (IPTEK ).  Sehingga manusia dituntut untuk mampu bersaing dengan manusia yang lain. Salah satunya adalah melalui pendidikan yang perlu ditunjang oleh kinerja pendidikan yang bermutu tinggi dan berkualitas. Pendidikan adalah usaha sadar dan terancana untuk mewujudkan suasana belajar agar peserta didik menjadi aktif. Hal ini sesuai dengan definisi menurut Sukmadinata (2008: 25) sebagai berikut:  
Perbuatan mendidik diarahkan pada pencapian tujuan-tujuan  tertentu, yaitu tujuan pendidikan. Tujuan-tujuan ini bisa menyangkut kepentingan peserta didik sendiri, kepentingan masyarakat dan tuntutan lapangan pekerjaan atau ketiga-tiganya peserta didik, masyarakat dan pekerjaan sekaligus. Proses pendidikan terarah pada peningkatan penguasaan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, pengembangan sikap dan nilai-nilai dalam rangka pembentukan dan pengembangan diri peserta didik.

Dalam proses pembelajaran, guru yang memiliki strategi pembelajaran   untuk menghindari kurangnya minat belajar terhadap pelajaran sejarah yang akan mempengaruhi hasil belajar siswa. Menurut Hamzah (2007:2) “Strategi pembelajaran adalah cara-cara yang akan dipilih dan digunakan oleh seorang pengajar untuk menyampaikan materi pembelajaran sehingga akan memudahkan peserta didik menerima dan memahami pembelajaran,pada akhirnya tujuan pembelajaran dapat dikuasai diakhir kegiatan belajar”.
Pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas merupakan salah satu tugas utama guru. Menurut Suparman (2010:22) “Guru berperan sebagai fasilisator anak didik dalam proses pencarian nilai-nilai atau pengetahuan khususnya yang berkaitan dengan kehidupan dan lingkungan sekitarnya”. Untuk itu sebagai seorang guru harus mampu menciptakan kondisi belajar yang dapat membangun kreativitas peserta didik untuk menguasai ilmu pengetahuan. Menurut Kunandar (2010:10) bahwa:
Pendidikan bertujuan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) peserta didik dengan cara untuk meningkatkan kualitas diri manusia melalui proses pembelajaran. Maka meningkatkan kualitas peserta didik, guru sebagai tenaga pendidik mempunyai tujuan utama untuk menciptakan prestasi belajar yang optimal yaitu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, dapat menarik siswa serta memotivasi siswa untuk siswa-siswi dapat belajar dengan baik dan semangat. Suasana belajar yang menyenangkan selalu akan berdampak positif bagi semua siswa. Prestasi siswa dalam belajar merupakan indikasi perubahan-perubahan siswa setelah mengalami proses belajar-mengajar. Dari prestasi inilah dapat dilihat keberhasilan siswa dalam memahami suatu materi pembelajaran.
                                                   
Kegiatan pembelajaran di dalam belajar-mengajar merupakan kegiatan yang sangat penting. Berhasil atau tidaknya tujuan pencapaian suatu pengajaran belajar-mengajar di sekolah banyak tergantung pada situasi belajar-mengajar di dalam kelas. Permasalahan yang ada adalah tidak adanya keaktifan siswa di dalam mengikuti belajar-mengajar khususnya pada mata pembelajaran sejarah. Siswa hanya sekedar mengikuti pelajaran sejarah yang diajarkan guru di dalam kelas.

Monday, April 1, 2013

PERANAN GURU DALAM PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
   Kalau kita bayangkan sejenak fikiran kita kedalam sebuah kelas, dimana sedang berlangsung pengajaran maka akan kita lihat seorang guru sedang mengajar. Sebelum ia memulai tugasnya sebagai seorang guru ia haru mempelajari lebih dulu kurikulum sekolah dan memahami semua program pendidikan yang sedang dilaksanakan. Iapun baru mengenal keadaan gedung ruangan kelas, perpustakaan, fasilitas belajar, perlengkapan sekolah, alat-alat peraga, dan semua sarana yang berguna bagi pengajar.

Tuesday, January 15, 2013

MASA TIGA KERAJAAN BESAR

MASA TIGA KERAJAAN BESAR


            Jatuhnya Bagdad akibat serangan pasukan Mongol pada tahun 1258 M, bukan saja mengakhiri khilafah Abbasiyyah melainkan sekaligus mengawali kemunduran politik islam secara drastis. Politik umat islam terpecah-pecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil, seperti dinasti Ilkhan, dinasti Timuriyah dan dinasti Mamalik. Kondisi politik islam kembali berkembang setelah terbentuknya tiga kerajaan besar : kerajaan Safawi di Persia, kerajaan Usmani di Turki dan kerajaan Mughal di India.

Monday, January 14, 2013

Ilmu Budaya Dasar

Ilmu Budaya Dasar

Ilmu budaya dasar merupakan pengetahuan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah –masalah dan kebudayaaan.
Istilah ilmu budaya dasar dikembangkan diindonesia sebagai pengganti istilah ” Besic humanitics “yang berrasal dari bahsa inggris  “The Humanities”. Adapun istilah Humanitics itu sendiri bersal dari bahasa latin Humanus yang bias diartikan manusiawi, berbudaya dan halus (fefincd). Dengan mempelajari The Humanitics diandaikan seseorang akan bias menjadi lebih manusiawi ,lebih berbudaya dan lebih halus. Secara demikian biasa  dikatakan bahwa The humanitics berkaitan dengan masalah nilai-nilai, yaitu nilai-nilai manusia sebagai homo humanus atau manusia berbudaya. Agar manusia bias menjadi humanus, mereka harus mempelajari ilmu yaitu The Humanitics  disamping tidak meninggalkan tanggung jawabnya yang lain sebagai manusia itu sendiri.<span id="fullpost">